Maafkan Adel ya Ma Pa, karena terlalu sibuk dengan Ego ku
Beberapa hari
yang lalu saya genap 25 tahun. Ya rasanya ga enak, sudah di umur segini belum
bisa memberikan yang terbaik untuk kedua orangtua saya. Pernah merasakan hal
yang sama kah? Saya jadi bingung mau bagaimana bersikap didepan kedua orangtua
saya kalau sudah begini hahahaha...
Seperti perasaan
canggung masih belum memiliki progress yang jelas dalam hidup, tabungan pun tak
punya, ah.. mau jadi apa saya ini. Pernah suatu malam, saya terbangun dan
melihat Papa dan Mama saya sedang solat Tahajjud, beliau menitikkan airmatanya
dan samar-samar saya dengar nama saya disebut dalam doa khusyuknya, membuat
kaki saya jadi lemas dan rasanya seperti tersambar petir.
Berhenti rasanya
jantung saya beliau benar-benar berdoa untuk kesuksesan saya. Sedangkan saya
masih saja malas solat, sedangkan saya masih saja malas membantu2 dirumah. Dan sedangkan
saya masih saja berbohong dengan alasan keegoisan saya sendiri. Malu saya
dihadapan Allah saat ini. Apa yang harus saya lakukan saat ini? Saya membisu,
tertunduk pasrah melihat diri saya terpantul di kaca. Bahkan sepertinya
mengucapkan Maaf ke depan orangtua saya saja, saya seperti tak mampu bahkan
merasa tertampar dengan keras.
Ulangtahun yang
benar-benar menohok uluhati, pikiran, bahkan jiwa saya sendiri. Begitu banyak
yang saya tuntut dari Beliau, namun hanya sgelintir doa berharap saya menemukan
masa depan yang baik untuk kehidupan saya dan anak-anak saya kelak. Bagaimana saya
harus bersikap sekarang? Menemukanmu sudah cukupkah bagi Beliau? Orangtuaku
cukup tau diri untuk tidak melewati batas otoritasmu kelak di masa depan kita. Beliau
hanya berharap kita nanti bahagia, dan tidak mengalami masa sulit seperti yang
mereka rasakan saat menikah awal dulu. Walau hidup itu proses, tapi Beliau
selalu ingin anaknya melewati proses yang mampu membuat mental kita nanti kuat.
Menggunakan otak bukan otot, menggunakan strategi baik bukan licik.
Berharap cucu
mereka nanti tidak kesulitan dalam memperoleh masa depan, Perasaan mereka akan
kita rasakan nanti setelah anak kita akan melangkah di step kehidupan seperti
kita sekarang. Kamu bersediakah menjalani proses yang Beliau inginkan dihidup
kita nanti? Beliau hanya takut anak-anaknya kesulitan. Maukah kamu berusaha berada
disampingku disaat memang aku harus bersimpuh didepan kedua orangtuaku meminta
restu untuk kita? Kamu yang saat ini ada di Hatiku dan mengisi hidupku selama
kuranglebih 3 tahun ini. Bersediakah kamu untuk jadi yang pertama dan terakhir
dihidupku? Cuma kamu yang tau jawabannya...





Komentar
Posting Komentar