Tak dapat tersentuh, tak terlihat jelas.

Mungkin kasus saya sudah pernah dialami beberapa orang lain diluar sana dengan konteks mungkin juga lebih parah. Sebuah status yang harus merubah sudut pandang lingkungan sekitar, baik intern atau extern. Pola pikir luar biasa yang ada di dalam diri kita dilawan dengan logika masa depan yang sebenernya semua masih bisa berubah, walaupun dengan embel-embel “Kalau kita mau” “Kalau Tuhan mengizinkan” “Kalau memang ada kesempatan” dan tanda kutip “Kalau” yang lain. Mengantisipasi itu memang lebih baik, daripada memperbaiki yang sudah terjadi. Tidak dipungkiri semua selalu menginginkan yang terbaik, dan yang tau terbaik untuk kita sendiri itu ya kita. Tapi ada kalanya yang terbaik itu ada ditangan orang yang lebih berpengalaman dalam kehidupan. Lalu kita bagaimana? Berusaha menjalani? Pasrah? Berjuang? Atau seperti tanda-tanda kutip diatas “Kalau Tuhan Mengizinkan” balik lagi ke diri kita dan karakter kita masing-masing. Kalau saya? Saya tidak punya ide untuk diri saya sendiri. Biarkan orang-orang sekitar saya yang mengambil ide. Bukan tidak berusaha? Tapi ingin memberikan mereka kesempatan untuk melihat seberapa saya terluka dan berusaha bertahan dengan kondisi yang belum memiliki celah untuk lari. jika benar dream catcher hanya mengambil mimpi indah, membuang mimpi buruk. saya harap saya punya itu didiri saya saat ini.

Komentar

Postingan Populer