M U A K


Merubah mindset orang bahwa kita sudah menjadi anak yang sudah baik-baik saja secara mental maupun fisik, padahal aslinya belum terlalu sembuh itu sulit.

Diremehkan sudah pasti, dipandang sebagai pembohong jelas, acting mereka di hadapanmu langsung? Mereka bisa ngalahin artis-artis layar lebar. Bisa sebegitu baiknya dihadapan kita. Tapi tetap berbicara busuk di belakang, mengungkit masa lalu yang sebenernya mereka sendiri ga paham itu bener atau engga, ditambahkan dengan bumbu-bumbu berlebihan dan pengurangan kebenaran.
Yaaa kadang saya ingin sekali memaklumi perlakuan mereka yang ga lebih dari sampah-sampah ini. Terlepas dari mereka lebih tua dari saya, atau mereka sepantaran umurnya dengan saya. Ingin berbisik pelan di telinganya, “Anda Cuma secuil upil yang nyelip di antara bulu-bulu hidung saya. Siap dikorek?”
Hahahha jijik ya, tapi lumayan kan bikin mereka nyesek.

Sebenci dan berasa ke neraka saya kalau melangkahkan kaki kesana setiap pagi nya. Harus tetap seolah-olah saya baik-baik saja. Kadang saya masih besar hati mendengarkan keluhan tentang kehidupan banyak orang disana, dari curhat colongan sampe mereka bener-bener ajak saya makan supaya saya bisa dengan curahan hatinya.
Merasa mereka memiliki masalah lebih parah dari saya yang membuat saya membatasi cerita hidup saya sejak saat itu. Ketika telak didepan mata saya mereka membicarakan tentang saya. Dan berpura-pura seolah mereka tidak mempermasalahkan hal tersebut di kemudian hari. Saya hanya tersenyum, meski dalam hati berkata “BRENGSEK!”

Belajar dari cara mereka memperlakukan saya seolah tidak terjadi hal yang menyedihkan atau menyesatkan itu cukup membekali saya menghadapi orang-orang muka badak yang masih dengan lantang membicarakan bumbu-bumbu permasalahan yang sudah lewat baik tentang saya maupun oranglain. Saat itu saya semeja dengan mereka jam istirahat. Dengan heboh dan penuh dengan kode pramuka mereka semangat gagap gempita menceritakan aib orang lain. Saya duduk diam dan memandang mereka berkata dalam hati, “Anda juga punya kartu as di kami, dengan kelakuan anda yang begini. Jangan sok suci.” Ya lagi-lagi saya hanya berkata dalam hati.

Bukan pengecut, hanya saja saya malas harus seperti di sinetron-sinetron murahan yang berujung jambak-jambakan, bahkan pukul-pukulan hahaha… Benci sekali saya melihat pemandangan ini setiap hari. Kalau bukan karena orangtua yang mengharapkan saya kerja di lingkungan seperti ini, saya sudah pergi kabur jauh dari sini.

Tulisan ini ditulis dengan perasaan datar dan tanpa emosi hanya muak saja… hahaha…



Komentar

Postingan Populer